Wednesday, December 3, 2014

Sifat Tawadhu’ (2)


Diceritakan oleh Gys bin Hazim, bahwa tetkala khalifah Umar Ibnu Khattab ra mengadakan perjalanan inspeksi ke Syam, ia mengadakan peraturan perjalanan dengan pembantunya. Jika ia menunggang unta, pembantunya berjalan kaki disebelahnya, memegang tali kekang dan setelah melalui satu farsakh (kira-kira 8 km) perjalanan turunlah ia menggantikan pembantunya yang mendapat giliran menunggang unta. Demikianlah pada tiap-tiap satu farsakh bergantilah giliran naik unta dan berjalan kaki.

Sewaktu perjalanan telah mendekati Syam, tibalah giliran si pembantu menunggang dan Umar berjalan dan berkebetulan sekali mereka harus melalui suatu tempat yang tergenang air. Terpaksalah Umar menghempit sandalnya di bawah ketiaknya sambil berjalan memegang tali kekang, sedang si pembantu berada di atas unta. Setibanya di pintu kota ia dijemput oleh Abu Ubaidah Ibnul Jarrah – salah seorang dari sepuluh sahabat yang telah dijamin syurganya – yang pada waktu itu ia menjawat Gubernur.

Melihat keadaan khalifah Umar sedemikian rupa, berkatalah Abu Ubaidah kepadanya: Hai Amirul Mukminin! Pembesar-pembesar dan kepala-kepala suku di Syam akan keluar menjemput Amirul Mukminin. Kiranya tidak layaklah mereka melihatmu dalam keadaan ini. Berkata Umar menjawab: Sesungguhnya kita telah dimuliakan oleh Allah dengan Islam, maka aku tidak akan memperhatikan dan mementingkan kata-kata orang.

Wallahu ’alam

H.Salim Bahreisy
Bekal Juru Da’wah Jilid 2
Surabaya, 1977

No comments:

Post a Comment