Wednesday, December 24, 2014

Kesabaran nabi Ayub as (5)


Sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harian, Rahmah terpaksa bekerja dengan upah beberapa potong roti. Keadaan mana  tidak dapat berlangsung lama, kerana setelah diketahui oleh majikannya Rahmah diberhentikan dengan alasan khuatir kejangkitan penyakit Aiyub. Kemudian sambil bermunajat kepada Allah : Ya Tuhan! Bumi telah menjadi sempit bagi kami dan orang-orang telah mengusir kami dari tempat di mana kami berada, berikanlah rahmatMu ya Tuhan dan janganlah Engkau mengusir kami dari rumahMu di hari Qiamat.

Pergilah  Rahmah ke tempat pedagang roti memohon dihutangi roti bagi suaminya yang kelaparan. Si pedagang roti enggan menghutangi Rahmah, tetapi ia minta rotinya ditukar dengan seikal rambutnya yang menyapu tanah dari panjangnya. Dengan disepakatnya cara barter itu, kembalilah Rahmah ke tempat suaminya membawa empat potong roti yang baru dan masih hangat itu serta melihat isterinya yang terpotong rambutnya – ia ia sangat cinta – timbullah rasa curiga dan cemburu dalam hati Aiyub, bahwa isterinya kiranya telah menjual diri untuk memperoleh beberapa roti itu. Ia sumpah dalam hatinya, kelak jika ia telah sembuh dari penyakit akan mengganjar isterinya dengan seratus kali cambuk. Sumpah mana kemudian dilaksanakan sesuai dengan perintah Allah sebagaimana diceritakan dalam ayat yang bermaksud: Dan ambillah dengan tanganmu seikat lidi, maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah.

Tetkala Rahmah menceritakan kisah diperolehnya roti itu kepada Aiyub, menangislah ia dan berdoa: Ya Tuhanku, telah habislah daya upayaku sampai-sampai isteri nabiMu menjual rambutnya untuk memberi nafkah kepadaku. Janganlah berkecil hati, kata Rahmah kepada suaminya. Rambutku akan tumbuh lagi lebih elok daripada yang sudah. Cuba engkau berdoa memohon agar Allah menyembuhkan penyakitmu. Aiyub menjawab: Kita telah mengalami dan merasakan kenikmatan hidup mewah selama delapan puluh tahun, sedangkan masa kesengsaraan kita masih belum sepanjang itu, aku malu dan segan berdoa memohon kepada Allah, seakan-akan kita kehilangan kesabaran.

Namun akhirnya, berserulah nabi Aiyub kepada Allah memohon pertolonganNya. Sebagaimana yang diceritakan dalam ayat yang bermaksud : Dan (ingatlah kisah) Aiyub ketika menyeru Tuhannya: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Yuhan Yang Maha Penyayang di anta semua penyayang. Kami pun memperkenankan seruannya, lalu Kami lenyapkan penyakit dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya dan Kami lipat gandakan bilangan mereka sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.

Wallahu ’alam

H.Salim Bahreisy
Bekal Juru Da’wah Jilid 2
Surabaya, 1977

No comments:

Post a Comment